|
Hidupmu akan Berubah
Kemarin siang aku bertemu dengan teman lamaku.
Sudah lama kami tidak bertemu...
terakhir kami bertemu kira-kira tiga tahun lalu ketika aku menghadiri pesta pernikahannya.
Dia kini telah menjadi seorang wanita karir yang bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar dan mempunyai kedudukan yang cukup tinggi.
"Saya sedang melakukan sebuah survey" katanya, setengah bercanda.
"Apakah menurutmu saya harus mempunyai seorang anak?"
"Itu akan mengubah hidupmu..." aku katakan dengan sangat hati-hati, mencoba agar suaraku terdengar biasa.
"Saya tahu", katanya. "Tidak lagi bisa enak-enakan tidur di hari libur, tidak lagi dapat pergi ke tempat-tempat yang saya dan suami saya inginkan dengan begitu saja tanpa persiapan apa-apa sebelumnya, seperti yang sering kami lakukan sekarang ini"
Tapi, sebenarnya bukan itu yang aku maksudkan.
Aku menatapnya sambil mencoba berpikir
apa yang harus aku katakan...
Aku ingin ia tahu mengenai apa yang tidak akan dia dapat dalam kursus-kursus atau latihan-latihan yang sering diberikan pada para calon ibu.
Aku ingin mengatakan padanya bahwa luka-luka fisik ketika melahirkan anak akan bisa disembuhkan...
Akan tetapi, menjadi seorang ibu akan meninggalkan banyak luka emosional yang mungkin akan terus tinggal bersamanya.
Aku berpikir apakah aku perlu memberitahu bahwa mungkin dia tidak akan bisa membaca surat kabar tanpa bertanya pada dirinya "Bagaimana seandainya itu yang terjadi pada anak saya?"
Bahwa setiap berita kecelakaan atau musibah akan dapat menghantuinya.
Bahwa ketika ia melihat gambar anak-anak yang kelaparan, mungkin dia akan juga bisa melihat gambar dari ibu anak-anak itu dan bertanya-tanya apakah ada yang lebih buruk lagi daripada seorang ibu yang menyaksikan anaknya mati perlahan-lahan...
Aku melihat pada kuku jari tangannya yang rapi, pakaiannya yang indah dan berpikir...mungkin dia perlu tahu juga, bahwa bagaimanapun anggunnya dia, menjadi seorang ibu akan sering membawanya ke situasi dimana keangunnannya akan hilang.
Sebuah teriakan singkat "Ibu!" akan membuatnya dapat tanpa ragu-ragu menjatuhkan piring atau hiasan kristal antiknya, membuatnya keluar kamar dengan make-up yang belum sempurna dan rol rambut di kepalanya...
Aku mungkin harus mengingatkan padanya juga bahwa bagaimanapun lamanya dan sulitnya dia telah membangun karirnya, ketika menjadi seorang ibu dia akan keluar dari jalur yang sering dianggap sebagai bentuk profesionalitas.
Dia mungkin dapat mengatur jadwal dengan sempurna...
akan tetapi suatu saat dia akan harus mau menunda sebuah "business meeting" ketika anaknya tiba-tiba sakit.
Dia mungkin juga akan memikirkan dan merindukan bau bedak anaknya dalam sebuah rapat...
Dia akan harus menggunakan seluruh kepandaiannya dalam mengatur dan berdisiplin untuk bisa lari dari kantor ke rumah, untuk memastikan apakah anaknya baik-baik saja.
Memandang temanku yang begitu cantik dan kelihatan sempurna, aku ingin dia tahu bahwa dia akan bisa dengan segera menurunkan berat badannya kembali setelah melahirkan.
Akan tetapi, dia tidak akan bisa merasa sama lagi mengenai dirinya.
Bahwa hidupnya, yang sekarang begitu penting, akan tidak begitu penting lagi buat dirinya...
Dia akan mengorbankan hidupnya untuk dapat menyelamatkan anaknya, akan tetapi juga berharap diberi lebih banyak waktu lagi untuk bisa hidup, bukan agar dapat mencapai cita-citanya, akan tetapi agar dapat melihat anaknya menggapai cita-citanya sendiri.
Aku ingin dia tahu, bahwa bekas-bekas luka caesar di perutnya akan menjadi sebuah medali kehormatan baginya.
Aku harap temanku juga dapat merasakan suatu hubungan yang erat dengan sesama ibu yang dengan susah payah berusaha mencoba menghentikan perang dan prasangka-prasangka yang terjadi di saat ini, agar anaknya dapat mengecap kehidupan yang lebih baik dan penuh damai di masa depannya.
Semoga ia dapat mengerti mengapa aku jadi sering berpikir lebih rasional menghadapi banyak isu-isu, akan tetapi menjadi bingung bila berdiskusi mengenai perang atau permusuhan antar warga.
Aku ingin memberikan gambaran untuknya, bagimana indahnya tawa seorang anak yang sedang merasakan hembusan angin dan melihat kupu-kupu yang terbang di taman untuk pertama kalinya.
Aku ingin menggambarkan pada temanku itu, bagaimana rasanya ketika anakku memeluk diriku dan menatap mataku...
Tatapan bingung temanku menyadarkan aku, bahwa ada setetes air di sudut mataku...
"Engkau tak akan pernah menyesalinya" kataku akhirnya.
Kugenggam tangannya... dan dalam hati berdoa untuknya, untukku dan untuk semua wanita yang telah memilih untuk menjawab salah satu panggilan hidup yang mulia...menjadi seorang ibu.
salam,
irma Koswara
(Ibu dari seorang anak penyandang Cerebral Palsy)
|